Minggu, 02 Oktober 2011

Catatan Malam

Heningkanlah waktu sejenak untuk sekedar mereview lintasan peristiwa hari ini semenjak menapakkan kaki dari atas tempat tidur sampai sebelum kembali merebahkan diri. Kemudian hadirkan lintasan itu dalam bayangan yang teramat jelas, sehingga kita seperti memutar ulang rekaman kejadian selama seharian penuh. Dari detik pertama hingga setiap putaran waktu yang berlalu, dari kedipan mata pertama setelah bangun tidur sampai kembali mata ini terpejam kembali, dan dari setiap helaan nafas yang terus berhembus tak hentinya,juga dari hitungan awal langkah, gerak raga, dan lontaran kata hingga sebelum habisnya malam.

Kemudian hitunglah satu persatu perbuatan baik sepanjang hari ini, dimulai dari langkah untu k membasuh muka di sepertiga malam, dan menunduk rukuk di hamparan sajadah, mungkin ada butiran-butiran air bening mengalir membasahi pipi, bahkan hingga menjelang fajar pun masih tergenang sisa-sisa air itu di kelopak mata. Lalu kita lanjutkan langkah ini keluar rumah untuk mencari rezeki, mencari ilmu, menyusur jalanan seharian. Berapa banyak dzikir terbilang dari mulut kita sepanjang jalan, berapa banyak permohonan ampunan kita bersama tangan-tangan tertadah. Ketika terdengar panggilan-panggilan-Nya, bukan cuma seberapa banyak atau lamanya merapatkan kening ini, melainkan juga kesungguhan untuk melepaskan semua kepentingan untuk berserah diri kepada Rabb sebagai sebuah kepentingan yang utama, melainkan seberapa besar khidmat ini dalam kekhusu'an menjadikan diri sebagai abdi-Nya dengan menanggalkan segala urusan yang tak jarang membiaskan makna ketuhanan kita.

Hadirkan pula wajah-wajah orang yang kita santuni hari ini dengan infaq, shodaqoh yang sengaja kita sisihkan untuk mereka. Mungkin juga langkah-langkah kebaikan yang kita tempuh, gerakan-gerakan tangan yang melakukan berbagai kebajikan, atau sekedar isyarat-isyarat kecil dari seluruh anggota tubuh ini yang melambangkan penghambaan kepada Rabb yang esa. Ingatlah kembali setiap rangkaian do'a yang tersusun rapih di setiap waktu, bersamaan dengan itu, untaian kata hikmah dan nasihat kebenaran tak luput dari ingatan kita. Sehingga semua amal shaleh sekecil apapun mampu kita putarulang untuk kemudian kita menjadikannya sebagai persembahan yang menurut kita berharga di hadapan-Nya, sebagai perbekalan yang kita anggap sudah mencukupi untuk perjalanan negeri akhirat.

Adakah yang terlewat dalam putaran rekaman peristiwa itu? Atau adakah yang terlupa dalam lintasan-lintasan kejadian kehidupan ini? Jelas dan tentu saja ada dan bahkan seringkali kita melupakan atau dengan sengaja menghapusnya. Bagaimana dengan perbuatan-perbuatan buruk yang tidak kita sadari menyertai setiap lintasan kebaikan itu? Maka kemudian, untuk mengetahuinya, ambillah kembali rekaman itu dan putarlah kembali dari awal. Semenjak mata terbuka hingga kembali terpejam, sejak langkah awal hingga kembali keatas pembaringan, semuanya, selama nafas terus berhembus, dalam setiap kedipan mata dan semua kata yang terucap.

Adakah terbersit rasa diri paling shaleh dalam setiap berdiri, sujud dan rukuk yang kita lakukan sehari-hari. Mungkinkah tak pernah terlintas –karena merasa paling banyak beribadah- dalam benak ini memastikan diri masuk ke surga-Nya. Meski padahal kita sangat sadar bahwa Allah-lah sang penentu kepastian. Kemudian bagaimana dengan pikiran-pikiran, gerak dan langkah kita yang terkadang mengkesampingkan keberadaan-Nya sementara lidah ini terus melafazkan dzikir. Adakah riya', ujub, sombong dan bangga diri mengiringi setiap perbuatan baik, setiap uluran tangan, dan setiap langkah kebajikan kita.

Kalaupun sudah banyak jumlah rakaat yang kita lakukan, sudahkah terus semakin kita perbaiki kualitasnya. Jika pun sudah sekian banyak shodaqoh terhulur dari tangan ini, sudahkah kita melakukannya diatas bingkai keikhlasan serta berkesinambungan. Andainya pun sudah membludaknya genangan airmata karena rasa takutnya akan adzab Allah, sudahkah kita mengikutinya dengan kesungguhan menjauhkan diri dari segala yang menimbulkan murka-Nya. Semestinyalah kita menyadari bahwa goretan-goretan hitam dalam lembaran kehidupan ini akan mengurangi nilai perbuatan baik kita. Seharusnya semakin kita sadari bahwa lintasan kelam yang menyertai ukiran indah amal shaleh kita akan memberatkan timbangan kita ke arah seberang kebajikan.

Maka teruslah memperbanyak sekaligus meningkatkan kualitas ibadah kita karena kita tak pernah tahu ibadah mana yang diterima Allah. Perbanyaklah lafaz dzikir kita karena kita juga tak bisa memastikan berapa banyak dzikir kita yang sampai kepada-Nya karena terlalu seringnya kita menyebut nama Allah dari bibir yang sebenarnya tidak sungguh-sungguh mengucapkannya, dari hati yang tidak juga bergetar saat menyebutnya. Perbanyak jugalah infaq shodaqoh kita, karena kitapun tak pernah bisa menilai uluran tangan kita yang mana yang bisa menghantarkan kita kepada pintu surga-Nya. Utamakanlah hikmah dan kebaikan yang keluar dari mulut kita dengan mengurangi kemungkinan kata-kata cela, fitnah, juga hati yang penuh dengki, iri dan dari rasa yang tak pernah puas diri, syukur, tawadhu' dan qanaah, karena kita pun tak kan bisa menerka sikap diri yang manakah yang akan menyelamatkan kita dari api neraka.....


-di satu malam saat berada di sisimu :)

Sabtu, 20 Agustus 2011

Doa seorang Pencinta

Tuhan,
Malam ini adalah malam pengenalan karakter kami yang sungguh hebat. Malam yg lebih dahsyat untuk menyatukan, menyeimbangkan antara 2 hati dan 2 pikiran.
Pelajaran demi pelajaran ku ambil. Pengalaman demi pengalaman ku dapat. Dan ini adalah tugas terbesar dalam hidupku untuk bisa memahami arti sebuah basa-basi. Ya, hanya sebuah basa-basi. Aku tak cukup pandai untuk berpura-pura mengatakan hal yang baik untuk sebuah kepentingan org lain/bersama. Aku pun tak cukup lihai menilai kalimat yang terlontar dari lawan bicaraku apakah kalimat tersebut hanya basa-basi, gertakan halus, atau benar-benar kalimat yang benar dia inginkan. Entah aku yang berperasa berlebihan, tak punya hati, tak punya otak, atau logikaku tak seimbang.

Malam ini aku melakukan tindakan bodoh dan nekat karena menerima satu kalimat tanpa aku saring maknanya terlebih dahulu. Karena aku pun benar-benar tidak bisa membedakan satu hal tsb serius diucapkan/ hanya kalimat bercanda. Setelah kulakukan, aku menyesal luar biasa. Marah dan gondok sangat..

Dan lagi-lagi, aku melakukannya pd lelaki yang sangat sayang padaku, dan akupun menyayangi dia seutuhnya.
Tuhan, bolehkah aku memintamu untuk memberikan dia padaku? Untuk menemani sepanjang sisa hidupku di dunia? Mendampingi ku dalam suka maupun duka? Berjalan beriringan menuju ka'bah Mu, menuju pintu Surga-Mu?

Tuhan,
Aku jatuh cinta bukan karena parasnya yang hampir sempurna, tapi karena cara dia mencintaiku, karena cara dia menunjukan rasa sayangnya itu. Aku pernah merasakan dicintai sebegitu dahsyatnya, namun tak berujung kebahagiaan. Aku mohon pada-Mu, aku ingin dia untuk yang terakhir kalinya. Aku ingin sayangnya dari dia.. Dan pribadinya, Yasallam...

Tuhan,
Entah darimana datangnya keyakinan ini, aku yakin datangnya pun dr Engkau yang Maha Pengasih.
Entah darimana datangnya rasa sayang kami, aku yakin datangnya dari Engkau Sang Maha Penyayang.
Semoga doa mlm ini di dengar, dan dikabulkan Allah SWT.
Amien ya Rabbal Alamin..


*dedicated to: Foolishness 27/2012
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Rabu, 27 Juli 2011

Daily thought in your mind.

There's a very fine line between sarcastic and being a callous jerk. Many, many people obviously have no idea where that line starts or stops. The best way to determine which is to imagine your words coming out of someone else's mouth and imagine they're being said about you. That should put things in perspective and help you not be someone you'd want to strangle if you were on the receiving end of your own 'sarcasm'.
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Jumat, 15 Juli 2011

Dreamer


Dreams.
Everyone has them. Some good, some bad. Some you wish you could forget.
Sometimes you realize, you've outgrown them.
Sometimes you feel like they're finally coming true.
And some of us, just have nightmares.
But no matter what you dream, when morning comes, reality intrudes and the dream begins to slip away.
Dream a little dream of me.

Dedicated to my Dreamer - Foolishness :)

Sabtu, 09 Juli 2011

Respect

Listen with both ears. Although this might sound strange, it is all too often that you think you are listening fully to people and are thinking of something else. Nor should you double-guess what someone is trying to say because in doing so you are not respecting that person or what they are saying. You are trying to hurry them along, which does not honour that person.


Best Regards,
Rininta Ika Aryani